Breaking News
light_mode
Beranda » Edukasi » Monev Dinkes dan DPRD Tidak Menjawab Akar Masalah

Monev Dinkes dan DPRD Tidak Menjawab Akar Masalah

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sel, 11 Agu 2026

Oleh: Mohtar Umasugi

(Akademisi STAI Babussalam Sula)

______

Saya mengikuti pemberitaan yang dimuat media online Investigasi.news dan Potretone.com mengenai pelaksanaan monitoring dan evaluasi (monev) oleh Dinas Kesehatan bersama Komisi III DPRD Kabupaten Kepulauan Sula di sejumlah puskesmas. Kegiatan tersebut tentu patut diapresiasi sebagai bagian dari fungsi pembinaan, pengawasan, dan evaluasi terhadap penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Kehadiran pemerintah dan DPRD di lapangan menunjukkan adanya perhatian terhadap pelayanan publik yang menjadi hak dasar masyarakat.

Namun, bagi saya, monitoring tidak boleh berhenti pada kunjungan, diskusi, ataupun penyusunan laporan. Nilai sebuah monitoring justru diukur dari keberaniannya mengidentifikasi akar persoalan, kemudian melahirkan kebijakan yang benar-benar menyelesaikan masalah. Masyarakat tidak mengingat berapa kali monitoring dilakukan, tetapi mereka akan selalu mengingat kualitas pelayanan yang diterima ketika datang berobat.
Dalam konteks itu, saya melihat bahwa persoalan yang paling mendasar di Puskesmas Sanana belum sepenuhnya tersentuh. Setidaknya terdapat tiga persoalan yang membutuhkan perhatian serius.

Pertama, keterbatasan jumlah dokter. Pelayanan kesehatan primer tidak akan berjalan optimal apabila tenaga medis, khususnya dokter, tidak tersedia sesuai kebutuhan. Beban pelayanan yang tinggi dengan jumlah dokter yang terbatas akan berdampak pada panjangnya antrean, meningkatnya waktu tunggu pasien, hingga berkurangnya waktu konsultasi medis. Pada akhirnya, masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan.

Regulasi kesehatan nasional melalui transformasi layanan primer menempatkan penguatan sumber daya manusia kesehatan sebagai salah satu pilar utama. Pemerintah daerah memiliki tanggung jawab untuk memastikan distribusi tenaga kesehatan yang memadai agar pelayanan kesehatan dasar dapat berjalan secara efektif, merata, dan berkesinambungan.

Kedua, pemanfaatan sistem digitalisasi pelayanan yang belum optimal. Di era transformasi digital, pelayanan kesehatan seharusnya semakin cepat, sederhana, dan mudah diakses. Sistem pendaftaran, antrean elektronik, rekam medis elektronik, hingga integrasi data pelayanan semestinya mampu memangkas waktu tunggu masyarakat.

Kementerian Kesehatan melalui kebijakan transformasi digital kesehatan terus mendorong penerapan Rekam Medis Elektronik (RME), integrasi data kesehatan nasional, serta digitalisasi pelayanan fasilitas kesehatan. Digitalisasi bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan instrumen untuk meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi kerja, transparansi, dan kepuasan pasien. Apabila implementasinya belum optimal, maka manfaat transformasi tersebut belum benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Ketiga, pembatasan pelayanan hanya sampai pukul 10.00 pagi. Persoalan ini menurut saya perlu mendapat perhatian khusus. Tidak semua masyarakat memiliki kesempatan datang lebih awal ke puskesmas. Ada yang berasal dari desa yang jauh, ada yang harus bekerja terlebih dahulu, bahkan ada yang baru mengetahui kondisi kesehatannya setelah aktivitas pagi.

Pelayanan kesehatan merupakan pelayanan dasar yang harus mengedepankan aksesibilitas, kemudahan, dan prinsip non-diskriminasi. Pembatasan waktu penerimaan pasien yang terlalu sempit berpotensi mengurangi akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Yang perlu diatur adalah mekanisme antrean dan kapasitas pelayanan, bukan menutup akses masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan pada jam pelayanan yang masih berlangsung.

Dalam perspektif regulasi, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menegaskan bahwa setiap warga negara berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau. Undang-undang ini juga memperkuat arah transformasi sistem kesehatan nasional melalui penguatan pelayanan primer, pemanfaatan teknologi digital, pemerataan tenaga kesehatan, dan peningkatan mutu layanan.

Sejalan dengan itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 19 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Pusat Kesehatan Masyarakat menempatkan puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan primer yang wajib menyelenggarakan pelayanan secara efektif, berorientasi pada kebutuhan masyarakat, serta menjamin akses pelayanan yang berkualitas. Regulasi tersebut menegaskan bahwa pelayanan puskesmas tidak hanya diukur dari kelengkapan administrasi, tetapi juga dari kemampuan menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Karena itu, saya berpandangan bahwa monitoring dan evaluasi hendaknya tidak berhenti pada pemeriksaan administrasi, kelengkapan sarana, atau pencapaian indikator program semata. Monitoring harus menghasilkan rekomendasi yang konkret, terukur, dan dapat segera ditindaklanjuti. Jika persoalan kekurangan dokter masih terjadi, maka harus ada solusi kebijakan. Jika digitalisasi belum berjalan optimal, maka perlu percepatan implementasi. Jika jam pelayanan menjadi hambatan akses masyarakat, maka mekanismenya harus dievaluasi.

Keberhasilan pelayanan kesehatan bukan diukur dari banyaknya kegiatan monitoring yang dilaksanakan setiap tahun. Keberhasilan sesungguhnya diukur dari semakin mudahnya masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang cepat, ramah, profesional, dan bermutu.

Monitoring adalah alat, bukan tujuan. Tujuan akhirnya adalah meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Sebab masyarakat tidak akan mengingat berapa kali Dinas Kesehatan dan DPRD melakukan monitoring. Mereka hanya akan mengingat bagaimana mereka diperlakukan ketika datang mencari pelayanan di puskesmas. (*)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Dapat Izin Berobat dari Jaksa, Tahanan di Lapas Sanana Meninggal Dunia

    Tak Dapat Izin Berobat dari Jaksa, Tahanan di Lapas Sanana Meninggal Dunia

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 391
    • 0Komentar

    Sanana, majangpolis.com – Salah satu tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Kepulauan Sula atas nama Taufik Kailul (19), meninggal dunia saat dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sanana, Senin (17/11/2025) pukul 09.00 WIT. Informasi yang dihimpun majangpolis.com, almarhum adalah Warga Desa Umaloya, Kecamatan Sanana, yang tersandung kasus dugaan pengeroyokan dan di tahan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) […]

  • Dinas Pertanian Sula Gerak Cepat Respons Program Pemerintah Pusat

    Dinas Pertanian Sula Gerak Cepat Respons Program Pemerintah Pusat

    • calendar_month Sab, 18 Apr 2026
    • account_circle Sahbudin Yunus
    • visibility 397
    • 0Komentar

    Sanana, majangpolis.com – Mendukung program pemerintah pusat dengan hilirisasi pertanian sebagai proses mengolah bahan mentah hasil pertanian menjadi produk olahan bernilai tambah, tidak sekadar menjual hasil panen mentah. Tujuan tersebut untuk meningkatkan nilai ekonomi, memperpanjang masa simpan, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong industrialisasi pertanian. Contohnya, sawit menjadi minyak goreng atau biofuel dan singkong menjadi mocaf. […]

  • 10 Prompt ChatGPT untuk Edit Foto dari Efek Dramatis hingga Ubah Warna

    10 Prompt ChatGPT untuk Edit Foto dari Efek Dramatis hingga Ubah Warna

    • calendar_month Kam, 11 Sep 2025
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 523
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com — Kecerdasan buatan kini semakin mempermudah siapa saja dalam mengedit foto. ChatGPT, yang sudah terintegrasi dengan teknologi pengolah gambar, memungkinkan pengguna mengubah, memperbaiki, hingga memberi efek dramatis hanya dengan mengetikkan perintah atau prompt. Bahkan semua orang dapat mengedit foto dengan mudah melalui platform kecerdasan buatan (AI) seperti ChatGPT dan GeminiAI. Bagian terbaiknya adalah, […]

  • Bongkar Dugaan Perjalanan Dinas Fiktif, Nurjaya Bakal Diadukan ke BK

    Bongkar Dugaan Perjalanan Dinas Fiktif, Nurjaya Bakal Diadukan ke BK

    • calendar_month Jum, 24 Apr 2026
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 296
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com – Nurjaya Hj. Ibrahim, anggota DPRD Kota Ternate dari Partai Gerindra dikabarkan akan dilaporkan ke Dewan Kehormatan (DK) Dewan usai melaporkan dugaan perjalanan dinas rekan sesama wakil rakyat ke Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Maluku Utara. Ketua BK DPRD Kota Ternate, Mochtar Bian menjelaskan, hingga Jumat sore dirinya masih berada di kantor, namun belum […]

  • Kebakaran Hebat di Mangga Dua Ternate, Delapan Kedai Dilalap Api

    Kebakaran Hebat di Mangga Dua Ternate, Delapan Kedai Dilalap Api

    • calendar_month Sel, 30 Sep 2025
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 354
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com – Kebakaran hebat melanda kawasan tapak Kelurahan Mangga Dua, Kota Ternate, Maluku Utara pada, Selasa (30/9/2025). Api dengan cepat menjalar hingga membakar delapan kedai UMKM di kawasan tersebut. Peristiwa ini terjadi sekira pukul 11.30 WIT. Informasinya, api diduga berasal dari kedai Taman Laut lalu menjalar hingga kedai yang ada di kiri dan kanannya. […]

  • Melihat Lebih Dekat Kondisi Terkini Sekolah Rakyat di Ternate setelah Dikunjungi Wapres Gibran

    Melihat Lebih Dekat Kondisi Terkini Sekolah Rakyat di Ternate setelah Dikunjungi Wapres Gibran

    • calendar_month Kam, 23 Apr 2026
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 487
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com – Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SMP) 26 Ternate resmi beroperasi sejak 14 Juli 2025, membawa angin segar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di Ternate. Sekolah ini merupakan bagian dari kategori Sekolah Kebangsaan 1A dan telah berjalan selama hampir 10 bulan, kini memasuki semester kedua. Kepala Sekolah Rakyat SMP 26 Ternate Manton La Usma […]

expand_less