BBM Non-Subsidi Naik, Pertamax di Maluku Utara Tembus Rp16.650 per Liter
- account_circle Ikram Salim
- calendar_month Rab, 10 Jun 2026
- visibility 83

Ilustrasi petugas SPBU mengisi BBM. (Foto: diolah menggunakan AI)
Ternate, majangpolis.com – Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi kembali mengalami kenaikan signifikan mulai, Rabu (10/6/2026). Kenaikan harga terjadi pada sejumlah jenis BBM Pertamina, termasuk Pertamax yang di wilayah Maluku dan Papua kini dijual sebesar Rp16.650 per liter.
Kenaikan harga tersebut dilakukan di tengah meningkatnya harga minyak dunia yang dipengaruhi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar 1 persen dan mencapai US$92,29 per barel setelah serangan militer Amerika Serikat terhadap Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global.
Berdasarkan daftar harga terbaru, Pertamax di wilayah Maluku dan Maluku Utara mengalami kenaikan dari Rp12.600 per liter menjadi Rp16.650 per liter. Sementara Pertamax Turbo dipasarkan pada kisaran Rp21.200 per liter, Dexlite Rp23.500 per liter, dan Pertamina Dex Rp25.350 per liter. Adapun BBM subsidi jenis Pertalite dan Bio Solar tidak mengalami perubahan harga dan tetap dijual masing-masing Rp10.000 per liter dan Rp6.800 per liter.
Hasil pantauan majangpolis.com di sejumlah SPBU di Kota Ternate telah melakukan penyesuaian harga.”Pagi tadi kita belum bisa langsung operasi karena harus sesuai harga dulu di mesin,”kata salah satu petugas SPBU Batu Anteru, Rabu (10/6/2026).
Meski begitu belum terjadi antrian panjang sebagaimana biasanya ketika terjadi kenaikan BBM baik untuk pembelian Pertalite atau Pertamax.
Kenaikan harga BBM non-subsidi ini disebut sebagai dampak penyesuaian terhadap perkembangan harga minyak mentah dunia dan harga pasar keekonomian. Pertamina menyatakan penyesuaian dilakukan sesuai formula yang ditetapkan pemerintah serta telah dikoordinasikan dengan regulator terkait.
Naiknya harga BBM diperkirakan akan berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang di berbagai daerah, termasuk Maluku Utara yang masih bergantung pada jalur distribusi laut. Sejumlah kalangan berharap pemerintah dapat mengambil langkah antisipatif agar kenaikan harga energi tidak memicu lonjakan harga kebutuhan pokok di masyarakat.
Sementara itu, pengamat pasar energi menilai pergerakan harga minyak dunia masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terus meningkat, harga minyak berpotensi kembali mengalami kenaikan dalam beberapa waktu ke depan. (ikh)
- Penulis: Ikram Salim
- Editor: Ikram
- Sumber: Berbagai sumber



Saat ini belum ada komentar