Gabalil Hai Sua, Antara Kesiapan, Kebanggaan dan Tanggung Jawab Kolektif
- account_circle Redaksi
- calendar_month Jum, 1 Mei 2026
- visibility 218

Mochtar Umasugi.
Oleh: Mohtar Umasugi
Menjelang pelaksanaan event budaya Gabalil Hai Sua pada 2 Mei 2026, saya melihat ada satu hal yang patut diapresiasi sekaligus direnungkan secara bersama. Kesiapan panitia pelaksana yang semakin matang di tengah keterbatasan, namun tetap mampu menghadirkan optimisme kolektif.
Event ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan representasi dari denyut kebudayaan orang Sula yang terus hidup dan diwariskan lintas generasi, bahkan hingga ke tanah rantau. Kehadiran 30 tim peserta yang terdiri dari masyarakat Sula, baik yang berada di Kabupaten Kepulauan Sula maupun di perantauan, menjadi bukti bahwa identitas kultural tidak lekang oleh jarak geografis. Justru, diaspora Sula menemukan momentum pulang baik secara fisik maupun emosional melalui event ini.
Tidak hanya itu, kehadiran tim pemantau dari Kabupaten Halmahera Selatan dan beberapa kota lainnya menunjukkan bahwa Gabalil Hai Sua telah melampaui batas lokalitas. Ia mulai menegaskan dirinya sebagai ruang perjumpaan budaya yang memiliki daya tarik regional.
Dalam perspektif ini, event ini berpotensi menjadi cultural diplomacy berbasis lokal yang jika dikelola secara berkelanjutan, dapat menjadi ikon pariwisata budaya Maluku Utara.
Namun, di balik capaian tersebut, terdapat kerja sunyi yang tidak selalu terlihat. Panitia pelaksana telah menunjukkan keseriusan dalam mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari aspek teknis hingga koordinasi lintas pihak. Kesiapan ini bukan sesuatu yang lahir secara instan, melainkan hasil dari komitmen, kerja kolektif dan rasa tanggung jawab terhadap warisan budaya leluhur.
Dalam konteks ini, saya melihat peran penting sosok Pak Adnan Husein atau yang akrab disapa Ko Nan. Kontribusinya dalam membantu panitia, khususnya dari sisi pendanaan, bukan sekadar bentuk dukungan material, tetapi juga refleksi dari kepedulian terhadap keberlangsungan budaya lokal. Di tengah realitas minimnya perhatian struktural terhadap kegiatan budaya, kehadiran figur seperti Ko Nan menjadi penopang utama agar idealisme panitia tidak berhenti di tengah jalan.
Secara analitis, kondisi ini sekaligus mengindikasikan bahwa pengelolaan event budaya di daerah masih sangat bergantung pada inisiatif individu dan solidaritas komunitas. Negara, dalam hal ini pemerintah daerah, diharapkan hadir lebih serius dalam memberikan dukungan, baik dalam bentuk kebijakan, anggaran, maupun fasilitasi. Sebab, kegiatan seperti Gabalil Hai Sua tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga memiliki implikasi ekonomi, sosial, dan bahkan politik identitas masyarakat lokal.
Lebih jauh, kesiapan panitia dan antusiasme peserta harus dimaknai sebagai modal sosial yang sangat berharga. Jika dikelola secara profesional dan berkelanjutan, event ini dapat berkembang menjadi agenda strategis daerah yang mampu menggerakkan ekonomi kreatif, membuka ruang partisipasi generasi muda, serta memperkuat kohesi sosial masyarakat Sula.
Akhirnya, Gabalil Hai Sua bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah dalam perlombaan, tetapi tentang bagaimana kita menjaga ingatan kolektif, merawat identitas, dan membangun masa depan berbasis nilai-nilai kearifan lokal. Kesiapan panitia hari ini adalah cermin dari harapan besar bahwa budaya Sula akan terus hidup, tumbuh, dan menjadi kebanggaan bersama.
Besok, ketika event ini resmi digelar, kita tidak hanya menyaksikan sebuah kegiatan, tetapi juga sebuah peristiwa kultural yang sarat makna tentang pulang, tentang kebersamaan, dan tentang tanggung jawab sejarah yang tidak boleh diabaikan. (*)
Penulis merupakan pengajar di STAI Babbusalam Sula.
- Penulis: Redaksi



Saat ini belum ada komentar