Breaking News
light_mode
Beranda » Edukasi » Negara Takut Dikritik

Negara Takut Dikritik

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Sen, 25 Mei 2026

Oleh: Fadli Kayoa

(Jurnalis)

Situasi demokrasi Indonesia hari-hari ini memprihatinkan. Terutama pada aspek kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat. Hal tersebut dilihat dari banyak kasus kriminalisasi aktivis Hak Asasi Manusia (HAM), masyarakat adat, kekerasan dan teror terhadap jurnalis. Bahkan belakangan nonton film Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono pun dibubarkan.

Dua tahun terakhir saat negara terlihat ketakutan dengan kritikan, diskusi dan nobar. Pola yang semestinya tidak dapat ditolerir di era Reformasi yang menjamin kebebasan berpendapat, berkumpul dan berserikat.

Indonesia seperti kembali ke era 32 tahun lalu atau kepemimpinan Soeharto. Saat berkumpul, nobar dan diskusi kritik kebijakan kekuasaan dilarang, pemberitaan kritis di bredel dan penangkapan terhadap aktivis yang dianggap mengganggu stabilitas negara.

Padahal seyogyanya kritik terhadap kebijakan negara baik secara langsung, maupun melalui karya bagian penting menjaga demokrasi Indonesia tetap sehat dan tumbuh. Namun mungkin hanya jadi bualan di rezim militeristik ini, sebab didepan publik mereka bisa mengklaim membela buruh saat hari buruh, membela petani, membela kebebasan dan demokrasi.

Tapi kenyataannya semua itu hanya lip service. Faktanya rezim hari ini mengarah pada kembalinya dwi fungsi militer. Karena semua kebijakan secara terang-terangan melibatkan militer (Tentara), bahkan mereka ikut mengontrol sejumlah proyek nasional pemerintah. Mereka juga kerap terlibat dalam membubarkan diskusi maupun nobar.

Kasus terbaru nobar film Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono dibubarkan di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Ternate sebanyak dua kali. Alasanya film tersebut menyulut provokasi, dan SARA. Padahal Film karya Whatsdog itu mengangkat perjuangan masyarakat adat Papua berhadap-hadapan perusakan lingkungan dan perampasan ruang hidup. Film ini juga mengangkat keterlibatan militer mengamankan proyek strategis nasional (PSN) Sawit, Tebu, dan food estate.

Pertanyaan mendasarnya mengapa negara dan perangkat keamanan (Tentara) takut pada film ini?.

Bila dijawab, sederhananya negara terutama aparat keamanan takut kejahatan mereka dibongkar. Sebab dengan dalil pengamanan PSN mereka terlibat secara aktif melegalkan perampasan ruang hidup dan perusakan lingkungan. Mereka terlibat penuh menyokong kekuasaan membunuh, merampas dan merusak alam serta hak ulayat masyarakat adat Papua.

Ironisnya belakangan, publik dihebohkan dengan munculnya video tokoh masyarakat adat Papua, Yasinta Moiwen. Dalam video singkat itu, salah satu tokoh adat Perempuan dan pemeran film Pesta Babi tiba-tiba mengaku tidak mengetahui dirinya dilibatkan atau direkam dalam film dokumenter tersebut.

Cuplikan video ini lalu viral di media sosial. Aktor yang membahasnya sudah pasti buzzer yang dibayar negara mengcounter isu keterlibatan militer dan upaya negara menghancurkan alam Papua demi ambisi transisi energi palsu.

Namun demikian, klarifikasi mama Yasinta Moiwen yang berbanding terbalik dengan gerakannya memperjuangkan ruang hidup, menunjukkan ada tekanan militer saat mengambil video tersebut. Sebab sebelum video Mama Yasinta viral dan jadi bahan kampanye buzzer, tokoh adat tersebut hadir dalam peluncuran perdana film dokumenter di Youtube JUBITV.

Yah kita tau, kasus demikian bukan yang pertama terjadi di Indonesia teman-teman yang budiman. Sebab negara memang sejak lama selalu menciptakan opini publik, dan membantah perbuatan buruknya dengan cara-cara kotor, seperti mengancam dan menekan, bahkan menghilangkan.

Mirisnya isu ini digiring hingga ke pendanaan produksi film dokumenter pendanaannya dianggap melegalkan kepentingan asing. Padahal faktanya negara justru lebih banyak melegalkan kepentingan asing di banyak proyek nasional Indonesia, bahkan banyak dapat bantuan asing. Lalu siapa sebenarnya antek asing?.

Buzzer bangsat yang dibayar ini terang-terangan membangun narasi kotor, seolah film tersebut mengorbankan orang asli Papua. Namun, upaya memhangun narasi tandiangan atas fakta tersebut dapat kita baca sebagai ketakutan negara atas perbuatan jahat mereka. Ini bukan hanya terjadi di Papua, tapi model demikian telah lama dipraktekkan.

Pada akhirnya kita dapat berkesimpulan bahwa situasi demokrasi Indonesia sedang terancam. Karena ketika kritik dilarang, diskusi dan nobar dibubarkan menandakan otoriterisme militer secara nyata mulai eksis lagi. (*)

  • Penulis: Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anggota Brimob Polda Maluku Utara Aniaya Istri hingga Kritis

    Anggota Brimob Polda Maluku Utara Aniaya Istri hingga Kritis

    • calendar_month Kam, 26 Mar 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 356
    • 0Komentar

    Ternate, majangpolis.com — Seorang anggota Brimob Polda Maluku Utara bernama, Bripka Reyhan Duwila (37) menganiaya istrinya, Pipi Wulandari (37), hingga kritis. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu, 22 Maret 2026, sekitar pukul 22.30 WIT di rumah korban yang berlokasi di Kelurahan Toboleu, Kecamatan Ternate Utara, Maluku Utara. Akibat penganiayaan tersebut, korban mengalami kritis karena pendarahan di […]

  • Tiga Pemuda di Morotai Terseret Ombak, 1 Orang Meninggal Dunia

    Tiga Pemuda di Morotai Terseret Ombak, 1 Orang Meninggal Dunia

    • calendar_month Kam, 16 Jul 2026
    • account_circle Ikram Salim
    • visibility 178
    • 0Komentar

    Morotai, majangpolis.com – Seorang pemuda asal Desa Meti, Kabupaten Halmahera Utara, yang dilaporkan hilang setelah terseret ombak di Pantai Desa Bido, Kabupaten Pulau Morotai, akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia oleh Tim SAR Gabungan, Kamis (16/7/2026). Korban diketahui bernama Jeit Oga (21). Ia sebelumnya terseret ombak bersama dua rekannya saat beraktivitas di kawasan pantai. Dua […]

  • Ini Kandidat yang Berpotensi Jadi Sekda Definitif Pulau Taliabu

    Ini Kandidat yang Berpotensi Jadi Sekda Definitif Pulau Taliabu

    • calendar_month Sab, 4 Jul 2026
    • account_circle Hasman Sangaji
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Bobong, majangpolis.com – Proses penetapan Sekretaris Daerah (Sekda) definitif Kabupaten Pulau Taliabu disebut telah memasuki tahap akhir. Dari tiga nama yang sebelumnya diusulkan Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu kepada Badan Kepegawaian Negara (BKN), kini tersisa satu nama yang telah diteruskan ke Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Informasi yang dihimpun menyebutkan, tiga kandidat yang mengikuti proses seleksi tersebut […]

  • Pengurus Demokrat Sula Minta APH Lihat Konteks Publik dalam Polemik Penyebaran Percakapan Elektronik

    Pengurus Demokrat Sula Minta APH Lihat Konteks Publik dalam Polemik Penyebaran Percakapan Elektronik

    • calendar_month Rab, 26 Agu 2026
    • account_circle Sahbudin Yunus
    • visibility 221
    • 0Komentar

    Sanana, majangpolis com – Pengurus DPC Partai Demokrat Kepulauan Sula, Darmawan Buamona, meminta aparat penegak hukum (APH) melihat secara utuh konteks polemik penyebaran percakapan elektronik yang berkaitan dengan persoalan pemerintahan desa. Menurut Darmawan, materi percakapan yang dipersoalkan tidak semata-mata berkaitan dengan urusan pribadi. Ia menilai, persoalan tersebut memiliki kaitan dengan aspirasi masyarakat mengenai penyelenggaraan pemerintahan […]

  • Harita Nickel Perkuat Minat Baca Anak melalui Program Rumah Baca

    Harita Nickel Perkuat Minat Baca Anak melalui Program Rumah Baca

    • calendar_month Kam, 7 Mei 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 350
    • 0Komentar

    Kawasi, majangpolis.com – Provinsi Maluku Utara terus mencatatkan kemajuan signifikan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, terutama dalam pemberantasan buta aksara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), angka buta aksara penduduk usia 10 tahun ke atas di wilayah ini berhasil ditekan hingga ke angka 1,05 persen, sebuah capaian yang lebih baik dibandingkan tahun 2024 […]

  • Didukung Pemda Kepulauan Sula, Amelia Siap Tampil di Nasional Miss Hijab

    Didukung Pemda Kepulauan Sula, Amelia Siap Tampil di Nasional Miss Hijab

    • calendar_month Sen, 20 Apr 2026
    • account_circle Sahbudin Yunus
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Sanana, majangpolis.com – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, mendorong Amelia Taher untuk mengikuti ajang Nasional Miss Hijab yang akan berlangsung pada November 2026 mendatang. Amelia Taher, yang juga putri asal Kepulauan Sula itu merupakan mahasiswi Universitas Terbuka (UT) di Ternate. Pemda setempat menyatakan komitmennya untuk mendukung Amelia untuk mampu bersaing di tingkat […]

expand_less