Melihat Lebih Dekat Kondisi Terkini Sekolah Rakyat di Ternate setelah Dikunjungi Wapres Gibran
- account_circle Ikram Salim
- calendar_month Kam, 23 Apr 2026
- visibility 150

Kepsek Sekolah Rakyat SMP 26 Ternate, Manton La Usma.
Ternate, majangpolis.com – Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SMP) 26 Ternate resmi beroperasi sejak 14 Juli 2025, membawa angin segar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera di Ternate.
Sekolah ini merupakan bagian dari kategori Sekolah Kebangsaan 1A dan telah berjalan selama hampir 10 bulan, kini memasuki semester kedua.
Kepala Sekolah Rakyat SMP 26 Ternate Manton La Usma menjelaskan, saat ini SMP 26 Ternate memiliki 50 siswa kelas 7, terdiri dari 18 putri dan 32 putra. Para siswa ini berasal dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) dengan kategori desil 1 dan desil 2.
”Yang berarti mereka adalah golongan masyarakat yang membutuhkan bantuan dalam hal pendidikan dan pemberdayaan. Pendapatan bulanan keluarga mereka rata-rata di bawah Rp1 juta,”jelas Manton saat ditemui majangpolis.com.
Dia menjelaskan, sebagai sekolah berasrama (boarding school), SMP 26 Ternate menyediakan fasilitas dan dukungan penuh bagi para siswanya. Mulai dari kebutuhan dasar seperti air hingga kebutuhan pribadi seperti potong rambut bulanan. Sekolah ini mengusung konsep pendidikan gratis, di mana semua kebutuhan siswa difasilitasi oleh pemerintah.
Manton mengungkapkan, meskipun ada kendala, semua dapat diatasi berkat kolaborasi dan koordinasi yang kuat.
“Pihak sekolah berkoordinasi dengan sentral, gugus tugas, dan juga orang tua siswa. Kolaborasi ini juga melibatkan Kementerian Sosial (Kemensos) di tingkat pusat maupun daerah,”paparnya.
Tenaga Pendidik dan Kependidikan Profesional
Tenaga pengajar di SMP 26 Ternate adalah pegawai P3K Kemensos yang telah mengikuti PPG dan bersertifikasi. Sebagian besar guru berasal dari luar Provinsi Maluku Utara, khususnya dari kabupaten-kabupaten di Provinsi Jawa Timur. Saat ini, terdapat 9 guru yang siap mengajar, ditambah satu guru agama dari Kementerian Agama.
Selain guru, sekolah ini juga didukung oleh dua wali asrama dari Kemensos. Mereka adalah mantan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) yang kini menjadi bagian dari tim tenaga kependidikan. Dukungan juga datang dari Direktorat Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos) serta rehabilitasi sosial (Refsos) dan Tagana. Sekolah ini juga memanfaatkan tenaga outsourcing dari pihak ketiga untuk mendukung operasional.
Pendekatan Khusus untuk Anak-anak Istimewa
Manton bilang, SMP 26 Ternate tidak melakukan asesmen seleksi siswa, melainkan menerima siswa berdasarkan data DTKS. Anak-anak di sekolah ini dianggap sebagai “anak-anak istimewa” yang membutuhkan pendampingan dan perhatian khusus.
Pendekatan pendidikan di sekolah ini berbeda dengan sekolah reguler, karena pendampingan dilakukan 24 jam sehari, tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar kelas, termasuk di asrama.
“Sekolah ini juga memfasilitasi kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat dan minat siswa, seperti olahraga dan seni,”ujarnya.
Tahun depan, SMP 26 Ternate berencana membuka kelas 8. Sistem penerimaan siswa baru akan tetap melalui penjangkauan dan verifikasi data DTKS, memastikan bahwa hanya siswa dari Desil 1 dan Desil 2 yang dapat bergabung. (ikh)
- Penulis: Ikram Salim
- Editor: Ikram

Saat ini belum ada komentar